Jumat, 07 Oktober 2016

Bersyukur, Berlari dan Bercerminlah agar Hidup Terus Melangkah

Pandanglah ke bawah dan bersyukurlah, pandanglah ke atas dan kejarlah, pandanglah cermin dan pahamilah diri

"Pandanglah ke bawah dan bersyukurlah, pandanglah ke atas dan kejarlah, pandanglah cermin dan pahamilah diri"

Kita sering merasakan senang dan susah yang silih berganti di dalam hari-hari yang telah kita lewati, pada saat kita berada dalam kondisi yang menyenangkan mungkin tidak perlu kita mempermasalahkan kondisi tersebut, tetapi adakalanya kita merasa frustasi dan kecewa terhadap kehidupan yang sedang kita jalani pada saat kondisi kita sedang tidak menyenangkan. Berbagai masalah seolah datang bertubi-tubi tiada terbendung dan menjadikan diri kita seperti tiada berarti dan berguna, bahkan sampai merasa bahwa kita adalah orang yang paling menderita.

Secara kurang lebih, mungkin hampir semua orang pernah mengalami dan merasakan hal tersebut di atas. Pada saat seperti itu cobalah kita tenangkan hati dan memandang kehidupan yang ada sekitar kita.

Pandanglah ke bawah dan bersyukurlah
Cobalah mengingat kembali dan merenung tentang hal-hal diluar diri kita yang pernah kita lihat ataupun cerita yang pernah kita dengar. Diantara kondisi yang pernah kita lihat atau dengar tersebut pastilah ada suatu kondisi dimana orang lain mengalami suatu hal yang cukup membuat hati kita merasa iba/kasihan. Pada saat hati kita bisa merasa kasihan terhadap orang lain tentu saja dikarenakan kita merasa mempunyai kondisi yang lebih baik dari orang yang kita kasihani. Dari hal tersebut di atas, kita seharusnya masih merasa bersyukur bahwa ternyata kita masih diberikan sebuah kondisi yang lebih baik. Dan mungkin juga masih banyak lagi orang yang tanpa kita ketahui mempunyai kondisi yang lebih tidak menyenangkan dibandingkan kondisi yang sedang kita hadapi. Tetapi jangan sampai dengan cara pandang ini kita menjadi sombong dan merendahkan orang yang mempunyai keadaan di bawah kita. Saya secara pribadi cukup kagum terhadap sebuah falsafah orang Jawa "nrimo ing pandum" (menerima apa adanya) yang mengajarkan seseorang untuk selalu menerima apa yang terjadi dan mensyukurinya. Mereka juga masih bisa berkata "untung tidak...." (misalnya pada kejadian kecelakaan, walaupun sakit parah mereka masih dapat berkata "untung tidak sampai meninggal") dan saya rasa ini adalah suatu ungkapan syukur atas suatu kejadian yang tidak menyenangkan.

Pandanglah ke atas dan kejarlah
Dengan cara yang sama seperti di atas cobalah untuk memandang ke atas, dimana akan kita lihat banyak sekali orang yang lebih daripada kita. Jadikanlah kesuksesan yang kita lihat tersebut sebagai sebuah motivasi untuk bangkit kembali dari setiap masalah ataupun keterpurukan yang kita alami. Saya pernah mendengar sebuah perkataan, "orang lain bisa, mengapa kita tidak? Padahal kita menghirup udara yang sama, sama-sama makan nasi dan seterusnya". Mungkin anda juga sudah pernah mendengar perkataan tersebut. Bagi saya sendiri, perkataan tersebut cukup memotivasi dan mendongkrak semangat untuk bangkit dan mengejar harapan. Tetapi janganlah dengan cara memandang ke atas seperti ini menyebabkan kita mempunyai rasa iri atau juga malah semakin berkecil hati. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil segala sesuatu yang kita lihat tersebut dari sisi yang positif untuk diri kita.

Tataplah cermin dan pahamilah diri
Hampir semua orang pasti pernah melakukan dan mengerti untuk apa kita berdiri di depan sebuah cermin dan menatapnya. Pastilah kita akan melihat diri kita sendiri dan kemudian menilanya. Apakah yang dinilai pada saat kita bercermin? Tentu penampilan kita secara fisik yang akan terlihat dan dapat kita nilai. Apakah wajah kita sudah terlihat segar? Apakah rambut kita sudah tersisir dengan rapi? Apakah masih ada kotoran yang melekat? Apakah baju kita sudah terpasang dengan benar dan rapi? Dan mungkin masih banyak lagi pertanyaan yang akan terjawab pada saat kita melihat sebuah cermin. Demikian juga maksud dari tataplah cermin dan pahamilah diri anda. Dalam hal ini tidak sekedar tentang masalah fisik saja tetapi juga masalah yang lainnya, misalnya: bagaimana dengan hati kita, kemampuan kita, kelemahan kita dan lain sebagainya. Hati kita dapat kita jadikan sebagai sebuah cermin untuk melihat diri kita, dimana seseorang dapat melihat dirinya sendiri bukan melalui perkataan orang. Dengan cermin hati cobalah untuk memahami dan mengerti seperti apakah diri kita yang sebenarnya. Adakalanya kita lupa untuk bercermin tentang hidup yang telah kita jalani karena kita selalu disibukkan oleh hal-hal dan masalah yang ada. Dengan menatap sebuah cermin kita dapat lebih mawas diri dan juga mengerti akan kelebihan serta kekurangan kita. Satu hal yang saya tahu tentang sebuah cermin adalah "cermin tidak pernah berbohong atau pun menutupi sesuatu yang memang kelihatan"

Tulisan ini hanyalah sekedar untuk mengingatkan dan sebagai pembelajaran diri saya sendiri, tanpa ada maksud yang lain. Apabila ada sahabat yang membaca tulisan ini dan ingin memberikan masukan, mohon untuk dapat menuliskannya pada kolom komentar yang tersedia, terima kasih.

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar