Senin, 12 Desember 2016

Citra Diri: Seperti Apakah Saya?

"Pikirkanlah selalu hal-hal positif karena dari pikiran terbentuklah citra diri kita"

Pikirkanlah selalu hal-hal positif karena dari pikiran terbentuklah citra diri kita

Pernahkah Anda mendengar tentang citra diri? Mungkin ada yang pernah dan mungkin juga ada yang belum, citra diri adalah sebuah gambaran yang ada di dalam pikiran kita tentang seperti apa diri kita. Jadi boleh dikatakan bahwa jawaban dari pertanyaan yang ada dalam judul di atas adalah: saya adalah seperti gambaran tentang diri saya sendiri yang ada di dalam pikiran saya. Dari gambaran ini akan muncul suatu penilaian terhadap diri kita, baik itu penilaian positif maupun yang negatif. Penilaian inilah yang akan mempengaruhi sebuah rasa penerimaan terhadap diri sendiri. Ada kalanya kita melihat atau merasakan bahwa ada satu hal atau lebih dari diri kita yang kurang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Hal ini secara tidak sadar akan menimbulkan sebuah rasa penolakan terhadap diri sendiri. Biasanya penolakan diri ini ditandai dengan adanya sebuah pemikiran untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain atau berandai-andai. Gambaran tentang diri kita tersebut sangat berpengaruh terhadap rasa percaya diri, pola pikir, perilaku, sikap, perkataan dan hal yang lainnya. Pada umumnya citra diri kita dapat terlihat dan dirasakan oleh orang lain dari setiap apa yang kita perbuat. 

Kapan dan bagaimanakah citra diri seseorang mulai terbentuk? Citra diri ini terbentuk dari dua buah faktor lingkungan yaitu lingkungan eksternal dan internal dari seseorang. Lingkungan eksternal adalah segala sesuatu yang berada diluar diri seorang individu. Lingkungan eksternal ini terdiri dari beberapa unsur, diantaranya adalah: orang-orang yang berhubungan dengan individu tersebut baik langsung maupun tidak langsung, kondisi sosial ekonomi yang ada, budaya masyarakat dimana dia tinggal dan lain sebagainya. Sedangkan lingkungan internal adalah individu itu sendiri yang meliputi unsur fisik dan psikologis.

Kembali kepada pertanyaan di atas, citra diri seseorang terbentuk mulai dari awal kehidupannya. Bahkan semenjak masih di dalam kandungan ibunya, seseorang sudah mulai dibentuk citra dirinya. Mengapa demikian? Karena pada saat manusia masih  berupa janin didalam rahim seorang ibu, dia sudah merupakan seorang individu yang mempunyai kehidupan walaupun sangat terbatas. Seorang anak yang masih dalam kandungan akan sangat terpengaruh oleh apapun yang dirasakan oleh ibunya karena saat itu dia adalah bagian dari tubuh ibunya. Kondisi psikologis seorang anak yang diharapkan kehadirannya dengan anak yang tidak diharapkan dari orang tuanya pastilah akan berbeda pada saat besarnya. Anak yang diharapkan biasanya mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya semenjak dalam kandungan, sehingga dia akan merasa diterima dan akan mempunyai citra diri yang positif. Sebaliknya anak yang kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian akan merasa kehadirannya tidak mempunyai arti atau bahkan merasa adanya sebuah penolakan dari orang terdekatnya.

Lingkungan Internal
Dalam lingkup lingkungan internal ini terdiri dari 2 unsur, yaitu:
1. Citra Diri secara Fisik 
Adalah sebuah gambaran diri kita dari sisi keadaan fisik atau tubuh yang ada pada saat ini.  Pada dasarnya apabila seseorang merasa dirinya mempunyai postur tubuh yang baik, kondisi kesehatan dan kelengkapan tubuh yang normal (tidak cacat) maka hal ini akan membentuk sebuah citra diri yang positif. Tetapi apabila terjadi hal yang sebaliknya, biasanya akan menimbulkan sebuah kecenderungan untuk membentuk sebuah citra diri yang negatif, sehingga akan sangat berpengaruh terhadap rasa percaya diri seseorang. Setelah dari kelengkapan tubuh, kemudian seseorang akan menilai dirinya tentang seberapa menariknya bentuk fisik yang dimiliki tersebut. Sebagai contoh misalnya dari sisi wajah cantik/ganteng, bentuk tubuh yang seksi atau gagah dan yang lainnya. Apabila seseorang dapat menerima dan nyaman dengan apa yang ada pada tubuhnya maka dia akan mempunyai citra diri yang positif dalam hal fisik. Citra diri yang terbentuk dari keadaan fisik ini biasanya dapat berubah seiring dengan perubahan yang terjadi pada tubuh seseorang.
2. Citra Diri secara Psikologis
Adalah sebuah gambaran diri yang terbentuk dari kemampuan yang dimiliki seseorang dari sisi non fisik. Kemampuan non fisik ini dapat berupa kecerdasan secara intelektual, kecerdasan dalam bersosialisasi, konsep atau pola pikir, pengalaman hidup dan lain sebagainya. Sebagai contoh pengaruh citra diri dari pengalaman hidup, pada saat kita melakukan suatu pekerjaan dan hasilnya memuaskan/sukses maka kita akan merasa bahwa diri kita mempunyai kemampuan yang memadai dalam hal pekerjaan tersebut sehingga akan menambah rasa percaya diri kita. Contoh tersebut adalah sebuah hal yang akan membentuk dan menambah citra diri kita menjadi positif. Tetapi sebaliknya, sebuah kegagalan akan menurunkan citra positif kita atau dengan kata lain akan memicu citra diri yang negatif. Dan citra diri inipun dapat berubah seiring berjalannya waktu dan kedewasaan seseorang.

Lingkungan Eksternal
Dalam lingkup lingkungan eksternal ini apabila kita pilah-pilah secara detail akan terdiri dari banyak unsur. Tetapi pada bahasan dalam tulisan ini hanya akan dibatasi pada 1 hal yang saya anggap paling penting yaitu orang lain dan lingkungan sosial. Mengapa demikian? karena orang lain sangat besar pengaruhnya terhadap sebuah citra diri seseorang. Dimana seorang individu tidak mungkin hidup tanpa keberadaan dan interaksi dengan orang yang lain dalam kehidupannya. Di dalam berinteraksi dengan orang lain inilah akan terjadi pengaruh yang positif maupun pengaruh yang negatif dalam terbentuknya sebuah citra diri seseorang. Apabila seorang individu dapat diterima dengan baik dan apa adanya oleh lingkungan sosialnya maka dia juga akan menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura. Masalah utama seseorang dalam sebuah komunitas adalah mengenai apakah kehadiran dirinya dapat diterima atau ditolak oleh komunitasnya tersebut. Seperti sudah disebutkan di atas, apabila dia dapat diterima maka tidak akan ada sebuah masalah, akan tetapi pada saat seeorang merasa tertolak atau tidak diterima maka hal inilah yang akan berakibat negatif terhadap citra dirinya. Seseorang tidaklah mungkin untuk dapat menyenangkan setiap orang yang ada dalam kehidupannya sehari-hari.

Dengan adanya kondisi dan unsur-unsur pembentuk citra diri seperti di atas, sebaiknya apa yang harus dilakukan agar citra diri kita positif? Seperti telah disebutkan di awal bahwa citra diri ini berada dalam pikiran kita, maka yang harus dilakukan agar citra diri tetap positif adalah selalu memikirkan hal-hal yang positif tentang diri dan kedaan kita serta bergaul dengan orang atau lingkungan yang positif tentunya. Pengaruh pergaulan sangatlah kuat terhadap karakter seorang individu, sehingga apabilah seseorang bergaul dengan lingkungan yang positif maka dia akan ikut menjadi positif dan juga sebaliknya. Salah satu indikasi bahwa seseorang mempunyai citra diri yang positif adalah dia dapat bersyukur dan menerima dirinya apa adanya. Apabila seseorang dapat menerima dirinya apa adanya maka pastilah dia juga dapat menerima keadaan orang lain apa adanya, dan inilah salah satu hal yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Memang untuk selalu berpikir positif dalam setiap keadaan tidaklah mudah, tetapi apabila kita mau dan berusaha pastilah ada hasilnya.

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati 







Sabtu, 03 Desember 2016

Ujian dalam Kehidupan: Sekedar Sebuah Sudut Pandang

"Seperti sebuah anak tangga,demikian juga persoalan dan ujian hidup ini. Ketika kita dapat melewatinya maka kita akan menjadi lebih tinggi."

Seperti sebuah anak tangga,demikian juga persoalan dan ujian hidup ini. Ketika kita dapat melewatinya maka kita akan menjadi lebih tinggi

Di dalam kehidupan sehari-hari, pastilah kita dihadapkan pada suatu masalah. Terlepas bahwa yang dihadapi adalah masalah besar ataupun kecil, entah itu banyak masalah maupun sedikit. Cobalah kita ingat dari saat kita membuka mata di pagi hari sampai dengan kita tidur lagi di malam hari, apakah benar selalu ada masalah? Pada saat mau bangun tidur saja kita sudah harus memilih, apakah langsung bangun ataukah tidur untuk sebentar lagi? Apakah bangun tidur langsung mandi ataukah santai dulu? Pada saat kita dihadapkan pada sebuah pilihan, dan itu sebenarnya adalah sebuah masalah kecil yang harus diselesaikan. Karena kita sudah terbiasa dengan rutinitas masalah tersebut setiap hari sehingga kita tidak merasakan lagi bahwa itu adalah sebuah masalah. Mengapa bisa seperti itu? Karena setiap kali kita mendapatkan masalah dan dapat menyelesaikannya maka secara otomatis diri kita menyimpan cara penyelesaian tersebut. Kemudian secara otomatis hal itu akan bekerja tanpa kita harus berpikir lagi pada saat menghadapi masalah yang sama.

Dikarenakan sangat sering terjadi maka jadilah hal tersebut sebagai sebuah kebiasaan. Kebiasaan akan melekat pada diri seseorang yang kemudian akan membentuk sebuah karakter. Apabila sebuah kebiasaan dilakukan oleh sebuah kelompok masyarakat, maka hal ini juga akan membentuk sebuah karakter masyarakat tersebut yang akhirnya menjadi sebuah budaya dari masyarakat bersangkutan. Waduh...malah ngelantur kemana-mana...he..he.

Kembali pada tema awal bahwa sebuah ujian hidup adalah seperti sebuah anak tangga. Dimana saat kita dapat melewatinya maka pastilah kita akan berada pada posisi yang lebih tinggi. Atau boleh juga diibaratkan ujian adalah sebuah pintu yang harus kita lewati untuk masuk menuju sebuah jenjang kehidupan yang lebih tinggi. Sekedar mengingatkan sebuah contoh yang sangat umum terjadi dan semua orang juga tahu. Di dalam jenjang sekolah, setiap kali kita akan naik kelas atau lulus dari satu jenjang ke jenjang sekolah yang lebih tinggi maka kita dihadapkan pada suatu permasalahan dan soal-soal yang harus kita selesaikan yang biasa kita sebut ujian. Pada saat kita mendapatkan suatu nilai seperti yang disyaratkan maka kita dinyatakan lulus dan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Demikianlah hidup dan kehidupan juga mempunyai sebuah kriteria untuk seluruh pelakunya. Dimana untuk mendapatkan dan sampai ke dalam jenjang tertentu haruslah melewati ujian hidup. Tetapi sebuah ujian hidup tidaklah sama seperti dalam dalam ujian sekolah, dimana kita tahu kapan waktunya akan datang dan juga seputar materi apa yang akan diujikan. Kita tidak akan pernah tahu kapan dan apa materi yang akan diujikan di dalam hidup kita. Terkadang ujian ini dapat kita lihat sebagai sebuah kesempatan untuk menjadikan kehidupan kita lebih baik. Tidak jarang juga ujian ini datang secara tiba-tiba dan tidak dapat kita lihat sama sekali sebelumnya.

Seperti telah dikatakan di atas bahwa sebuah ujian adalah  sebuah permasalahan yang bertujuan untuk menguji kita, apakah kita sudah memenuhi suatu kriteria untuk kehidupan yang lebih tinggi. Apakah sebuah ujian hidup selalu dapat kita lalui? Menurut pendapat saya, seharusnya kita mampu untuk menyelesaikan atau melewati setiap ujian yang diberikan kepada kita. Hal tersebut di atas berlaku apabila kita selalu belajar tentang apa yang sudah diajarkan oleh hidup dan kehidupan sebelum kita menghadapi sebuah ujian. Cobalah lihat hal ini: seorang guru memberikan soal ulangan kepada muridnya dengan tujuan untuk melihat apakah pelajaran yang sudah diajarkan  telah dapat dimengerti dan dipahami atau belum. Dan seandainya sudah, maka guru akan melanjutkan ke pelajaran selanjutnya, apabila belum maka dia akan mengulangnya. Saya yakin bahwa Tuhan juga tidak akan menguji umat-Nya dengan sesuatu yang belum diajarkan oleh-Nya melalui hidup dan kehidupan.

Sahabat, ada orang yang merasa cukup dengan lulus sekolah SMU, ada juga orang yang puas dengan lulus S1. Tetapi ada juga orang yang ingin dan berusaha untuk mendapatkan gelar Doktor atau Profesor. Dan ujian yang dihadapi masing-masing jenjang tidaklah sama. Begitu juga halnya hidup dan kehidupan yang ingin kita raih selalu memberikan ujian yang berbeda pula. Juga perlu kita ingat bahwa sebenarnya kita tidaklah tahu saat ini sedang berada di jenjang yang mana, sehingga jangan pernah untuk merasa iri dan membandingkan kehidupan serta ujian yang ada dengan orang lain, karena hal tersebut tidak akan berguna dalam hidup kita. Semua jenjang kehidupan mempunyai ujian, konsekuensi dan harga yang harus dibayar untuk dapat meraihnya. Dan semuanya kembali kepada pribadi kita masing-masing untuk memilih dan menentukan seberapa tinggi anak tangga yang akan kita lewati.

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi karya sendiri dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati 
Berikut ini adalah beberapa contoh video yang ada di dalam channel youtube tersebut.




Selasa, 29 November 2016

Kenikmatan Hidup yang Kita Dapatkan Bukanlah 100% Hasil Usaha Kita

Ingatlah, dalam setiap kenikmatan yang kita rasakan selalu ada pengorbanan orang lain di dalam
"Ingatlah, dalam setiap kenikmatan yang kita rasakan, selalu ada pengorbanan orang lain di dalamnya"

Seperti halnya sebuah rantai makanan yang terjadi di dalam alam ini, dimana untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya maka setiap individu membutuhkan pengorbanan dari individu yang lain. Dimana pada siklus ini terjadi proses memakan dan dimakan yang selalu akan berulang. Demikian juga didalam proses kehidupan manusia, yang saya maksud bukanlah untuk saling memakan, tetapi akan selalu ada pengorbanan dari orang lain untuk setiap kenikmatan dan kelangsungan hidup kita. Pengorbanan orang lain ini selalu terjadi walaupun kita tidak selalu menyadarinya. Dan proses ini juga seperti rantai atau siklus yang tidak akan pernah terputus dari manusia yang satu ke manusia yang lainnya, dari generasi satu ke generasi selanjutnya.

Sebagai ilustrasi, saya akan mengambil contoh sepenggal cerita fiktif dari kehidupan sebuah keluarga.

Ada sebuah desa di pinggiran kota yang cukup ramai tetapi tidak terlalu besar. Desa tersebut masih terlihat asri dan belum terlalu banyak polusi kendaraan yang mencemarinya. Sepanjang jalan banyak ditumbuhi pohon di kiri kanannya menambah asri dan teduh pada saat melewatinya. Hamparan sawah yang luas juga terlihat menghijau meperlihatkan kesuburan tanah yang ada. Sumber penghasilan utama dari warga desa tersebut adalah dari hasil bercocok tanam. Sebagian besar warga desa tersebut juga memelihara ternak sebagai tambahan penghasilan dan tabungan mereka. Ternak yang dipelihara oleh hampir seluruh warga adalah ayam, kambing, dan sapi.

Pada suatu pagi, terlihat seorang lelaki yang sudah cukup tua berjalan sambil menuntun dua ekor sapi. Sapi tersebut bukanlah milik lelaki tersebut, tetapi milik tetangga yang dirawatnya dengan sistem bagi hasil. Lelaki itu adalah salah seorang warga dari desa tersebut, kita sebut saja namanya Pak Karto. Sesampainya di sawah yang dia tuju, terlihat sebuah alat untuk membajak sawah terbuat dari kayu yang terlihat besar dan berat. Dengan hati-hati dipasangkannya alat tersebut pada kedua sapi yang dibawanya, dan mulailah Pak Karto membajak sawah miliknya.

Pak Karto mempunyai 3 orang anak yang semuanya adalah laki-laki. Anaknya yang pertama sudah menikah dan merantau di kota besar yang cukup jauh dari desa tersebut. Dia bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan posisi managerial. Boleh dikatakan bahwa anak yang pertama ini cukup sukses dalam karirnya dan secara finansial  cukup berada.  Dengan kondisi yang berkecukupan tersebut, sang kakak inipun membantu orang tuanya untuk membiayai sekolah kedua adiknya. Salah satu hal yang diharapkan sang kakak adalah adik-adiknya dapat memperoleh masa depan yang baik atau bahkan lebih baik daripada dirinya. Saat ini adiknya yang pertama  sedang kuliah dan yang kedua adalah seorang pelajar SMU kelas 3. Secara umur anak yang pertama memang terpaut cukup jauh dengan kedua adiknya.

Dahulu pada saat anak yang pertama masih sekolah, kehidupan Pak Karto termasuk cukup sulit. Untuk membiayai sekolah, Pak Karto terkadang harus berhutang dan menambah penghasilan dengan menjadi kuli bangunan di sela waktu bertaninya. Hal tersebut dilakukan oleh Pak Karto karena dia ingin anak-anaknya mempunyai masa depan yang lebih baik daripada dirinya sekarang. Satu hal lain yang juga mendukung Pak Karto untuk tetap bersemangat karena ia melihat anaknya tersebut juga berusaha keras dalam belajar sehingga selalu saja mendapatkan rangking yang baik setiap kali menerima raport. Berkat semangat dan kegigihan yang dimiliki oleh keduanya, akhirnya Pak Karto dapat menjadikan anak pertamanya menjadi seorang yang mapan seperti yang diharapkan.

Mungkin rekan pembaca bertanya, apa sih sebenarnya yang ingin disampaikan dari cerita di atas? Atau juga apa hubungan antara cerita dengan kata mutiara dalam gambar di atas? Saya hanya ingin menggambarkan bahwa kenikmatan hidup yang kita rasakan dan kita dapatkan sebenarnya bukanlah 100℅ hasil jerih payah kita sendiri. Pasti ada orang-orang lain yang membantu dan memberikan pengorbanannya agar kita mendapatkan kenikmatan seperti yang diharapkan. Terlepas bahwa pengorbanan orang lain tersebut besar atau pun kecil. Baik itu kenikmatan dalam sisi finansial, kebahagiaan, kedamaian dan lainnya. Lihatlah anak pertama Pak Karto dalam cerita di atas, tanpa pengorbanan yang dilakukan oleh ayahnya dalam mencukupi kebutuhan sekolahnya mungkin ceritanya akan berbeda. Memang hal utama yang membuat dia sukses adalah  usaha dan kerja keras yang dilakukannya. Satu hal lagi dari cerita di atas adalah: apabila kita menyadari bahwa ada pengorbanan orang lain dalam keberhasilan kita maka kita pun akan melakukan hal yang sama kepada orang lain, seperti halnya sang kakak membiayai adik-adiknya.

Seorang pemimpin tidak akan ada apabila tidak ada pengikut, tidak akan ada atasan jika tidak ada bawahan. Dan penentu keberhasilan serta kebesaran seorang pemimpin/atasan salah satunya adalah dukungan dan pengorbanan pengikut/bawahannya. Sahabat, kita harus selalu ingat bahwa nikmat yang kita rasakan bukankah 100℅ hasil jerih payah dan usaha kita semata. Dibalik semua kenikmatan tersebut banyak orang-orang yang sudah rela berkorban agar kita mendapatkan  kenikmatan seperti yang kita harapkan. Dengan mengingat bahwa kita tidak akan dapat berhasil dengan kekuatan sendiri maka eratkanlah rasa persahabatan dan persaudaraan agar senantiasa ada kerelaan untuk saling mendukung keberhasilan antar pribadi yang satu dengan yang lainnya. Semua ini hanyalah sekedar pemikiran saya sebagai proses pembelajaran diri sendiri, dan saya haturkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah merelakan waktunya untuk membaca tulisan ini.

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati 





Minggu, 27 November 2016

Prinsip Kesuksesan tidaklah Sama Seperti Prinsip Ekonomi

Besar kecilnya pengorbanan akan menentukan kesuksesan yang di dapatkan
"Besar kecilnya pengorbanan akan menentukan kesuksesan yang didapatkan"

Adakah orang yang tidak menginginkan kehidupannya sukses? Jawabannya pasti tidak ada, karena semua orang menginginkannya. Di dalam hidup ini terbagi dari berbagai aspek kebutuhan yang harus dipenuhi dan secara umum adalah seperti yang dikatakan oleh Maslow. Kebutuhan individu menurut Maslow dibagi menjadi 5 yaitu: kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. Tetapi saya tidak akan membahas tentang berbagai macam kebutuhan menurut Maslow tersebut.

Dari berbagai macam kebutuhan hidup yang ada seperti tersebut di atas maka setiap individu pastilah mempunyai keinginan untuk sukses dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam pemenuhan kebutuhannya, secara umum seorang individu membutuhkan aspek finansial,sosial, mental dan religi/kerohanian. Kata sukses dalam konteks ini adalah mencapai sebuah tingkatan yang diinginkan dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Dengan begitu sangat dimungkinkan bahwa tolok ukur sebuah kesuksesan akan berbeda antara satu orang dengan orang yang lainnya. Sebagai sebuah contoh dari sisi finansial, misalnya saja ada orang baru akan merasa sudah sukses apabila ia mempunyai tabungan sebesar 1miliar, tetapi ada orang lain tolok ukurnya adalah dapat menyekolahkan anaknya sampai lulus sarjana dan tidak punya hutang. Ada juga orang yang mengukur kesuksesan hidupnya dari keluarga yang rukun dan tenteram, ada juga yang mengukur dari sisi rohani dan lain sebagainya. Bagi saya, semua tolok ukur yang dipakai oleh masing-masing orang adalah pilihan dan tidak ada yang salah ataupun yang lebih benar.

Banyak faktor yang mempengaruhi pencapaian  kesuksesan dalam hidup seseorang. Salah satu faktor diantaranya adalah kemauan berkorban untuk mengejar tujuan yang ingin dicapainya. Tentu saja dalam hal ini tujuannya adalah sebuah tingkatan yang ingin dicapai dan sudah ditetapkan sebelumnya. Untuk tulisan saya kali ini yang akan dibahas hanyalah sebatas seberapa besar kemauan berkorban seseorang untuk mendapatkan tujuannya.

Sebuah cerita ilustrasi mungkin dapat menjelaskan mengenai besar kecilnya pengorbanan untuk mendapatkan kesuksesan/tujuan yang telah ditetapkan. Menurut pendapat saya dalam konteks tulisan ini, ada sebuah kemiripan untuk mencapai tujuan ataupun target dalam kesuksesan hidup dan dalam memancing ikan. Kebetulan saya mempunyai hobi mancing sehingga ilustrasi yang akan saya bagikan juga berhubungan dengan dunia memancing. Kemiripan dari kedua hal diatas adalah sama-sama dibutuhkannya sebuah pengorbanan untuk mencapai tujuan/target (sukses) seperti yang diinginkan.

Sebenarnya pengalaman ini terjadi sudah cukup lama sehingga saya sendiri sudah lupa tahun berapa tepatnya, seingat saya sebelum tahun 2000. Pada waktu itu  saya bersama beberapa teman pernah memancing di laut sekitar dermaga pelabuhan Tanjung Mas yang berada di wilayah Semarang. Target kami memancing saat itu adalah untuk mendapatkan ikan kakap putih yang kata orang cukup banyak di perairan tersebut. Sebagai gambaran saja bagi rekan-rekan yang awam dalam memancing, ada beberapa perlengkapan yang dibutuhkan dalam proses memancing. Perlengkapan tersebut adalah joran, reel/penggulung senar, senar, mata kail, timah pemberat dan umpan. Pengorbanan yang selalu ada dalam proses memancing adalah umpan. Dimana umpan ini menjadi salah satu kunci dalam mendapatkan ikan sesuai yang diharapkan. Cukup banyak  jenis umpan yang dapat dipakai dalam memancing ini, dari yang bisa didapatkan secara gratis misalnya saja cacing tanah tetapi ada juga yang harus kita beli misalnya saja udang. Karena target kami waktu itu adalah ikan kakap maka mau tidak mau kami harus menggunakan umpan berupa udang putih yang masih hidup. Mengapa harus dengan umpan tersebut? Karena secara umum ikan kakap hanya akan dapat dipancing menggunakan udang putih yang masih hidup.

Waktu itu untuk mendapatkan udang putih yang masih hidup tidaklah mudah, karena tidak banyak yang menjual dan harganya juga cukup mahal yaitu Rp. 1.000,-/ekor. Bagi kami yang waktu itu masih kuliah, untuk membeli umpan tersebut merupakan sebuah pengorbanan yang cukup besar karena dalam membeli umpan tidaklah cukup satu atau dua ekor saja. Tetapi karena target kami adalah untuk mendapatkan ikan kakap dan bukan ikan yang lainnya maka kami tetap membelinya. Dan akhirnya kami pun mulai memancing di dermaga dengan sebuah harapan untuk mendapatkan ikan kakap.

Apakah dengan menggunakan umpan udang puyih hidup pasti akan mendapatkan ikan kakap? Belum tentu juga, mengapa demikian? Karena sebuah umpan ataupun sebuah pengorbanan hanyalah salah satu faktor dari beberapa faktor untuk mendapatkan target/tujuan yang ditetapkan. Jika demikian, untuk apa kita harus berkorban dengan nilai yang besar sedangkan hal itu tidak menjamin untuk mendapatkan target/tujuannya? Minimal dengan adanya pengorbanan atau sebuah umpan yang tepat kita mempunyai kemungkinan yang besar untuk mendapatkan target yang kita inginkan walaupun hal itu juga belum pasti. Akan tetapi apabila kita tidak melakukan sebuah pengorbanan yang sesuai atau tepat, kecil sekali kemungkina kita untuk mendapatkan target yang diinginkan. Dan apabila dengan kemungkinan kecil tersebut kita mendapatkan target yang kita inginkan pastilah hal tersebut adalah sebuah pengecualian.

Seperti ilustrasi memancing dan umpan di atas, demikian juga sebuah pengorbanan harus dilakukan untuk mendapatkan target dan kesuksesan yang anda inginkan. Semakin besar nilai sebuah kesuksesan yang ingin anda raih, semakin besar pula nilai pengorbanan yang harus anda lakukan. Prinsip untuk meraih sebuah kesuksesan tidak sama dengan prinsip ekonomi yang pernah kita pelajari di bangku SMU yang kurang lebih adalah: untuk mendapatkan hasil tertentu dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Sedangkan prinsip sukses adalah semakin besar pengorbanan yang anda lakukan semakin besar pula nilai kesuksesan yang dapat diraih. Di dalam Bahasa Jawa ada juga sebuah ungkapan yang mirip dengan hal ini yaitu jer basuki mawa beya yang artinya dapat anda baca di sini. adaAdapun bentuk pengorbanan dalam meraih sukses dapat terdiri dari banyak hal, misalnya pengorbanan waktu istirahat, pengorbanan uang untuk mendapatkan skill tertentu, pengorbanan kenyamanan dan lain sebagainya.

Sahabat, perlu diingat juga bahwa adakalanya kita sudah melakukan suatu usaha dan pengorbanan yang besar tetapi hasil yang kita dapatkan tidak seperti yang kita harapkan. Akan tetapi semua yang sudah kita lakukan dan kita relakan tidak akan pernah menjadi sia-sia. Jadi tetapkanlah target tingkat kesuksesan yang ingin anda raih dan siapkanlah diri anda untuk melakukan usaha dan pengorbanan untuk meraihnya. Demikian yang dapat saya bagikan untuk kali ini, harapan saya tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan yang sudah rela mengorbankan waktu untuk membacanya, terima kasih.

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati 

https://www.youtube.com/channel/UCXeM56uJdESuK8oBrE4_P3w




Selasa, 22 November 2016

Sebuah Ilustrasi: Mengapa Beban Hidup Seolah Tidak Pernah Lepas Meskipun Kita Sedang Beristirahat?

lepaskanlah tas punggungmu pada saat istirahat, dan bawalah kembali pada saat siap untuk berjalan. demikian juga beban hidupmu

"lepaskanlah tas punggungmu pada saat istirahat, dan bawalah kembali pada saat siap untuk berjalan. Demikian juga tentang beban hidup"

Sebuah cerita ilustrasi, beberapa tahun yang lalu ada dua orang sahabat karib yang mempunyai hobi memancing di tepi pantai. Mereka sering pergi memancing di lokasi yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Selain memancing mereka juga senang menikmati suasana dan pemandangan yang ada di sekitar pantai. Ada kalanya mereka memilih lokasi memancing yang tidak dapat dijangkau dengan kendaraan. Dengan kondisi lokasi yang seperti itu, mereka harus berjalan kaki sampai ke tempat tersebut. Terkadang perjalanan yang ditempuh cukup dekat dan mudah, tetapi adakalanya cukup jauh dengan medan yang cukup susah. Biasanya mereka selalu bersemangat dan penuh dengan harapan pada saat menempuh perjalanan menuju lokasi memancing. Mungkin hal ini sangatlah wajar karena yang ada di dalam pikiran mereka adalah sampai di lokasi memancing dan mendapatkan kesenangan yang mereka harapkan. Sebaliknya pada saat perjalanan pulang tinggallah sisa tenaga dan mungkin dengan sebuah kekecewaan karena tidak mendapatkan ikan seperti yang diharapkan.

Suatu hari dua orang sahabat tersebut memancing di sebuah pantai batu karang yang cukup jauh. Untuk sampai ke tempat tersebut mereka harus berjalan kaki melewati beberapa bukit karang kecil. Seperti biasanya mereka bersemangat pada saat berangkat menuju lokasi.Singkat cerita, mereka berdua memancing di pantai karang tersebut dari malam sampai pagi hari. Beberapa ekor ikan mereka dapatkan walaupun kurang sesuai dengan harapannya. Kurang lebih jam 05.00 pagi mereka memutuskan untuk berkemas dan pulang. Terasa begitu jauh perjalanan yang harus mereka tempuh untuk sampai ke tempat penitipan motor. Beberapa kali mereka harus berhenti dan beristirahat karena sudah terlalu capek.

Ada sebuah perbedaan yang selalu dilakukan oleh dua sahabat tersebut pada saat mereka beristirahat. Perbedaan tersebut apabila tidak diperhatikan secara seksama pastilah tidak akan kelihatan. Pada setiap kesempatan untuk sejenak berhenti dan beristirahat, salah seorang dari mereka (kita sebut saja si A) selalu melepaskan dan menaruh semua beban yang dibawanya termasuk tas punggung yang digendongnya. Akan tetapi salah seorang yang lain (kita sebut saja si B) hanya meletakkan semua beban yang dibawa tetapi tidak melepaskan tas yang ada di punggungnya. Setelah beberapa saat merekapun melanjutkan perjalanan mereka. Begitu sampai di tempat penitipan motor, terlihat si A masih cukup segar sedangkan si B terlihat sangat capai. Sebuah hal yang membedakan antara keduanya selama menempuh perjalanan hanyalah pada saat mereka beristirahat, si A meletakkan semua bebannya sedangkan si B tanpa sadar masih membawa bebannya pada saat istirahat.

Sahabat, setiap orang pastilah mempunyai beban yang harus ditanggung di dalam perjalanan hidupnya. Dimana beban yang kita tanggung setiap hari tersebut dapat bertambah berat dari waktu ke waktu. Untuk tetap dapat berjalan sampai ke tempat tujuan akhir, ada kalanya kita harus beristirahat dan sejenak melepaskan beban yang ada agar stamina kita pulih kembali. Beban hidup ibarat tas punggung dalam cerita di atas yang dapat kita lepaskan sejenak untuk beristirahat. Tetapi terkadang kita lupa meletakkan beban tersebut sehingga kita merasa beban itu tidak pernah lepas dari diri kita. Terkadang kita sudah berusaha untuk mengambil waktu untuk refreshing atau pun sejenak beristirahat dan menjauhkan diri dari kesibukan yang ada, tetapi seolah beban itu tidak pernah mau lepas, mengapa? Seperti ilustrasi cerita di atas, sebenarnya kita tidak sadar bahwa pada saat beristirahat kita lupa melepaskan tas punggung dari pundak kita. Demikian pula dalam hidup ini, terkadang kita sudah mengambil waktu untuk beristirahat sejenak akan tetapi kita lupa meletakkan beban kita.

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati 




Senin, 21 November 2016

Perbedaan Sangatlah Berarti dalam Sebuah Keindahan

Keindahan tercipta bukan oleh kesamaan tetapi oleh perbedaan yang harmonis dan selaras
"Keindahan tercipta bukan oleh kesamaan tetapi oleh perbedaan yang harmonis dan selaras"

Salam sejahtera untuk sahabat semua.
Seperti yang tertulis dalam ungkapan bergambar di atas, maka pada kesempatan ini saya akan berbagi mengenai sebuah keindahan yang tercipta dari perbedaan yang menyatu dengan harmonis dan selaras. Menurut pendapat saya, segala sesuatu yang terlihat indah tentu disukai oleh orang banyak, misalnya saja bunga, pemandangan dan lain sebagainya. Mengapa perbedaan dapat menciptakan sebuah keindahan? Untuk menjelaskannya mungkin akan lebih mudah apabila saya menggunakan sebuah contoh nyata yang ada di dalam kehidupan kita.

Sebagai sebuah contoh keindahan yang saya ambil dalam tulisan ini adalah pelangi. Bagi saya, pelangi adalah salah satu keindahan yang pernah saya lihat dan selalu ingin saya lihat lagi. Ada beberapa alasan mengapa saya mengambil contoh dalam hal ini adalah pelangi. Adapun alasan tersebut adalah:
  1. Hampir semua orang tahu dan pernah melihat pelangi. Mungkin ada sebagian orang yang belum pernah melihat secara langsung, akan tetapi pastilah pernah melihat gambar sebuah pelangi atau minimal mendengar cerita tentang pelangi. 
  2. Pelangi sangat jelas tersusun dari warna-warna yang berbeda. Biasanya pada saat kita belajar di Sekolah Dasar (SD) sudah dijelaskan mengenai warna pelangi yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Dan agar kita mudah mengingat warna-warna tersebut maka biasanya disingkat menjadi me-ji-ku-hi-bi-ni-u.
  3. Keindahan yang ada pada sebuah pelangi diakui oleh banyak orang atau bahkan semua orang, sehingga layak untuk menggambarkan sebuah keindahan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya sebuah lagu pada masa kecil kita tentang pelangi. Pelangi - pelangi alangkah indahmu....dan seterusnya (he...he...jadi ingat masa kecil).
Keindahan secara umum tercipta dari beberapa hal yang berbeda yang tersusun menjadi satu kesatuan yang harmonis dan selaras. Seperti halnya pada sebuah pelangi yang tersusun dari 7 (tujuh) warna yang berbeda tetapi saling  mendukung dan tanpa meniadakan antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam sebuah kesatuan warna yang beragam tersebut terciptalah keindahan sebuah pelangi. Apabila hanya ada satu warna saja yang melengkung menghias langit pastilah tidak akan seindah sebuah busur Tuhan yang disebut pelangi.

Selain contoh tentang pelangi di atas, masih banyak contoh dalam kehidupan kita sehari-hari yang dapat menjelaskan kalimat ungkapan di atas. Misalnya, pada saat kita merangkai bunga untuk latar belakang sebuah pelaminan biasanya juga terdiri dari beberapa bunga dengan warna dan jenis yang berbeda agar terlihat indah. Pada saat kita melukis sebuah gambar, pastilah kita juga menggunakan warna yang berbeda-beda untuk menghasilkan sebuah lukisan yang indah. Dan masih banyak contoh yang lain yang dapat kita temui dalam kehidupan kita.

Demikian juga kehidupan kita di dunia ini akan terlihat indah apabila tersusun dari banyak perbedaan tetapi dapat menyatu dan saling mendukung satu dengan yang lainnya tanpa harus saling meniadakan. Di dalam masyarakat dimana kita hidup dan bersosialisasi juga terdiri dari beraneka ragam pribadi dan latar belakang yang berbeda serta banyak lagi hal yang tidak sama. Dan apabila semua perbedaan yang ada tersebut menyatu dalam sebuah keharmonisan dan keselarasan pastilah akan tercipta sebuah masyarakat yang indah. Sebuah harapan saya untuk kehidupan ini adalah sebuah kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan selaras seperti halnya keindahan sebuah pelangi dan juga seperti irama sebuah lagu yang tersusun dari berbagai perbedaan nada , baik itu nada tinggi dan rendah serta dimainkan oleh bermacam alat musik yang pada akhirnya menciptakan sebuah lagu merdu dan indah. Dan demikianlah seharusnya kita tercipta untuk menciptakan sebuah keindahan di mata dunia dengan keberagaman semua ciptaan Tuhan. Baca juga: Perbedaan bukan untuk dipertentangkan

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati 





Sabtu, 19 November 2016

Sekedar Berbagi Rasa tentang Pengorbanan Seorang Ibu untuk Anaknya

Sebagai seorang anak dari seorang ibu pastilah kita tahu atau setidaknya pernah mendengar tentang betapa banyak pengorbanan yang dilakukan oleh seorang wanita yang sedang mengandung. Dan tidak hanya sampai pada proses kelahiran saja pengorbanan yang diberikannya, tetapi juga dalam proses membesarkan anaknya. Bahkan pengorbanan yang dilakukannya tidaklah cukup sampai anaknya dewasa dan mandiri saja, tetapi sampai dengan akhir hayatnya.

Semua manusia  kecuali Adam dan Hawa, pastilah terlahir dari seorang wanita. Sebelum seorang anak manusia terlahir di dunia ini, seorang wanita calon ibunya sudah harus banyak berkorban untuk kelangsungan hidup janin di dalam kandungannya. Pada rentang masa kurang lebih  9 bulan mengandung bayinya, banyak sekali perubahan yang terjadi pada fisik atau pun psikis seorang wanita. Dan hampir semua perubahan yang terjadi boleh dikatakan tidaklah menyenangkan bagi seorang wanita.

Pada saat saya sudah cukup dewasa, saya tahu tentang betapa pengorbanan yang dilakukan oleh seorang dari mendengar cerita dan membaca. Ternyata saat itu saya hanya sebatas tahu tetapi belumlah mengerti dan belum dapat ikut mersasakan pengorbanan seorang wanita atau ibu untuk anaknya. Setelah menikah dan mempunyai anak, barulah saya benar-benar dapat mengerti dan ikut merasakan pengorbanan tersebut dari apa yang dirasakan oleh isteri saya.

Pada masa awal kehamilannya terjadi perubahan hormon dalam tubuhnya yang kerap kali menyebabkan badan terasa tidak enak. Sebagai contoh misalnya merasa pusing dan mual dan bahkan ada yang sampai harus dirawat karena efek perubahan hormon ini. Setelahnya, seorang wanita harus rela kehilangan kerampingan tubuh yang dibanggakan dan selalu dijaganya. Hal ini dikarenakan seorang calon ibu harus banyak menyantap makanan yang bergizi untuk menjaga kelangsungan perkembangan anak yang ada di dalam perutnya. Dengan banyaknya asupan makanan tersebut otomatis tubuhnya akan menjadi gemuk dan hilanglah kerampingan/kelangsingan tubuhnya. Saya rasa hal-hal tersebut sangatlah berat dan merupakan sebuah pengorbanan yang cukup besar.

Setelah beberapa bulan kemudian seiring dengan pertumbuhan bayi dalam perutnya maka beban yang harus ditopang oleh tubuhnya akan meningkat. Terkadang bertambahnya beban ini mengakibatkan kaki seorang wanita menjadi bengkak dan varises. Semuanya itu dapat dia terima dengan kegembiraan karena yang menjadi fokus dari dirinya adalah buah hati yang dikandungnya dan bukan lagi keadaan dirinya sendiri. Dan masih banyak hal lagi yang harus dialami seorang wanita sampai dengan kelahiran bayinya.

Kemudian kegembiraan dan kebahagiaan datang pada saat kelahiran berjalan dengan lancar baik itu harus dengan operasi caesar atau melalui kelahiran normal. Sebuah tanggung jawab yang baru datang seiring dengan kelahiran seorang anak. Dimana untuk masa awal kehidupannya, seorang bayi sangatlah tergantung dari ibunya. Ketergantungan seorang anak akan berangsur-angsur berkurang seiring dengan bertambahnya usia dan kedewasaan seorang anak. Hal ini memang menggembirakan dan membahagiakan bagi seorang ibu tetapi juga sangat melelahkan dalam menjalaninya.

Berhubung anak-anak kami saat ini masih kecil, sehingga baru sedikit yang dapat saya bagikan tentang pengorbanan seorang wanita yang menyandang predikat IBU. Saya yakin bahwa banyak dari rekan pembaca yang jauh lebih tahu dan mengerti tentang pengorbanan seorang ibu dibandingkan dengan apa yang saya tuliskan ini, terutama rekan-rekan yang memang menyandang gelar IBU. Tulisan ini adalah sebuah ungkapan rasa syukur dan terima kasih saya kepada ibu yang melahirkan saya dan juga untuk ibu yang telah melahirkan anak-anak saya serta untuk semua wanita yang sudah dan akan menjadi seorang ibu.

Sebuah puisi untuk mengenang pengorbanan seorang ibu yang saya tulis beberapa bulan yang lalu pada saat anak saya yang kedua berulang tahun.


Ketika sang waktu kembali mengingatkan diriku
Di saat cerita hidupku ini baru dimulai
Manakala kerasnya suara tangisku terdengar
Dan engkau pun terkulai lelah tanpa daya

Hangatnya dekapan sayangmu masih dapat kurasakan
Dengan pelukan berbalut kasih seluas langit yang tiada bertepi
Dengan tulusnya rasa cinta yang sehangat surya pagi 
Dengan berhiaskan senyuman yang penuh rasa kedamaian

Terbayang begitu besar pengorbanan yang telah engkau berikan
Betapa mahalnya harga yang harus engkau bayarkan
Telah engkau relakan keindahan tubuhmu sirna
Dengan segala rasa sakit yang harus kau rasakan
Menumpahkan darah menyabung nyawa dan menanggung perihnya sayatan luka
Dan semua itu hanya demi untukku yang kau puja

Tiada satu kata yang sanggup untuk melukiskan semuanya
Dan tak ada satu pun yang mampu untuk menggantikannya
Meskipun dengan seluruh hidupku dan itu pun tiada akan mampu 
Untuk mebalaskan kasih setiamu yang telah kau berikan untukku

Maafkanlah diri ini telah banyak menyusahkan hati dan perasaanmu
Hanya dengan terima kasih dan rasa hormatku
Dan dengan segala rasa syukur dan doaku
Teruntuk dirimu seorang wanita yang kupanggil Ibu

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati 



Selasa, 15 November 2016

Arti penting untuk melangkah keluar dari sebuah naungan

Setiap orang secara natural mempunyai cita-cita untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Demikian juga secara umum orang tua pastilah menginginkan kehidupan anak-anaknya lebih baik daripada kehidupannya sendiri. Untuk mencapai keinginan tersebut kebanyakan orang tua melakukannya dalam hal pendidikan anaknya. Dasar pemikiran dari hal di atas adalah apabila anak-anaknya mempunyai bekal pendidikan yang bagus maka di kemudian hari akan dapat mempunyai nilai dan daya saing yang tinggi dalam hidup sehingga akan memperoleh kondisi kehidupan yang lebih baik.
Di bawah pohon yang rindang tidak akan pernah ada pohon yang lebih rindang
"di bawah pohon yang rindang tidak akan ada pohon yang lebih rindang"

Terlepas dari sisi pendidikan seperti tersebut dalam paragraf di atas, masih banyak faktor yang mempengaruhi seseorang untuk tumbuh menjadi besar dan dapat mewujudkan cita-citanya serta keinginan orang tuanya. Salah satu faktor yang cukup penting menurut pendapat saya di luar faktor pendidikan adalah faktor keberanian dan kemauan untuk mandiri, karena faktor inilah yang akan mendewasakan pribadi seseorang. Keberanian dan kemauan untuk mandiri selain bersifat mendewasakan, juga merupakan salah satu penentu pengambilan keputusan dan solusi permasalahan yang dihadapi serta mewujudkan cita-cita seseorang di kemudian hari.

Untuk menjadi seseorang yang mempunyai kepribadian mandiri tidaklah mudah, hal ini dapat dilatih dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu seiring dengan pertumbuhan usia dan kedewasaan seseorang. Ada dua faktor yang berpengaruh terhadap kemandirian seseorang, yang pertama adalah dari sisi internal yaitu kemauan dan keberanian, sedangkan yang kedua adalah faktor eksternal yang antara lain adalah nilai-nilai hidup yang diajarkan orang tua dan budaya yang ada serta kondisi lingkungan dimana seseorang berada. Sebagai contoh untuk faktor eksternal misalnya seseorang yang tinggal di daerah yang subur dan di daerah yang kurang subur akan sangat berpengaruh terhadap tingkat kemandirian seseorang. Orang dengan lingkungan yang lebih sulit biasanya akan lebih cepat mandiri dibandingkan dengan orang dari lingkungan yang mudah.

Menurut pendapat saya kedua faktor yang mempengaruhi kemandirian seseorang tidaklah dapat dipisahkan karena selalu saling berhubungan. Mari kita ingat lagi pada masa kecil kita atau apabila rekan pembaca sudah mempunyai anak maka dapat mengamati pertumbuhan kemandiriannya. Pada waktu kecil dapat melepas dan memakai baju sendiri adalah suatu prestasi dan wujud dari sebuah kemandirian, hal ini dapat kita lihat bahwa dengan bangga dan senangnya seorang anak akan berkata kepada orang tuanya, "Mama/papa, adik sudah bisa melepas dan memakai baju sendiri". Dalam contoh itu kita dapat melihat bahwa pada dasarnya semua anak mempunyai kemauan dan keberanian mencoba untuk dapat melakukan segala sesuatunya sendiri/mandiri. Akan tetapi mereka juga membutuhkan sebuah dukungan dan apresiasi dari orang lain yang dipercayanya untuk memupuk dan menambah rasa percaya dirinya bahwa ia mampu, dan dalam contoh ini adalah orang tuanya. Dengan bermodalkan kemandirian-kemandirian kecil yang dilakukan dan diapresiasi dalam kehidupan seseorang dari kecil hingga usia dewasa inilah yang akan menciptakan seorang pribadi yang percaya diri dan mandiri yang akan mampu bersaing dalam kehidupan ini untuk mewujudkan pencapaian yang lebih baik.

Dalam masa bertumbuhnya seseorang menuju suatu tingkat kemandirian dibutuhkan suatu kondisi yang nyaman dan aman seperti halnya dalam contoh pertumbuhan kemandirian anak kecil di atas. Setelah seseorang merasa bahwa dirinya sudah cukup mampu untuk mengerjakan segala sesuatu dalam kehidupannya dan sudah cukup berlatih, maka dia harus keluar dari lingkungan yang menaunginya agar kemandirian dan kedewasaannya dapat bertumbuh menjadi lebih lagi. Seperti kalimat ungkapan yang saya tuliskan di atas, maka seseorang tidak akan menjadi lebih besar daripada naungannya apabila ia tetap berada dibawah naungan tersebut. Memang akan terasa tidak enak dan tidak nyaman keluar dari sebuah naungan karena sengatan teriknya mentari dan dinginnya guyuran air hujan akan menerpa langsung tanpa adanya sebuah perlindungan. Akan tetapi semua itu diperlukan untuk tumbuh dan berkembang sehingga suatu saat akan menjadi lebih besar daripada naungan yang pernah melindunginya.

Apabila seorang anak tidak pernah keluar dari rumah orang tuanya untuk menjadi mandiri, maka selamanya ia tidak akan pernah menjadi lebih daripada orang tuanya. Karena selain rasa nyaman dan aman yang dirasakan membuat orang menjadi malas dan tidak berkembang, juga ia akan selalu berada dibawah naungan dan bayang-bayang kebesaran orang tuanya sehingga si anak tidak akan pernah terlihat lebih besar dan tetap sebagai "seorang anak". Demikian juga yang terjadi di dalam setiap aspek kehidupan yang lainnya, seperti pada saat kita berada di lingkungan pekerjaan misalnya. Pada saat kita berada di bawah kepemimpinan seorang atasan yang bagus dan selalu melindungi serta mengajarkan pengetahuannya kepada anak buahnya, pastilah suasana ini akan terasa sangat nyaman dan aman. Bersyukur dan belajar sebaik mungkin pada saat kondisi terasa nyaman dan aman adalah sebuah pilihan yang tepat. Setelah cukup lama dan juga merasa cukup dalam hal pengetahuan serta sudah tidak ada sebuah ruang lagi untuk kita bertumbuh maka sebaiknya kita keluar dari naungan tersebut agar kita mendapatkan kembali ruang untuk pertumbuhan kita. Tetapi keluar dari naungan adalah sebuah pilihan, tidak semua orang mempunyai pemikiran yang sama dan daya juang yang sama sehingga semuanya kembali kepada diri kita masing-masing. Sebuah ungkapan dalam pergaulan kerja mengatakan, "tidak semua tentara akan pensiun sebagai seorang jenderal" demikian pula setiap orang akan mengambil pilihannya masing-masing untuk menjadi puas dan merasa cukup dalam hal kehidupannya.

Sahabat, ada waktunya kita memerlukan sebuah naungan dalam kehidupan ini dan ada waktunya juga kita merasakan kehidupan tanpa perlindungan. Ada waktunya kita menjadi orang yang berlindung dibawah kebesaran orang lain dan ada waktunya pula kita menjadi tempat perlindungan bagi orang lain. Demikian tulisan yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat dan sampai jumpa pada tulisan saya yang lainnya, terima kasih.

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati 




Sabtu, 12 November 2016

Jadilah orang pandai dan jadikanlah orang lain pandai

bergaullah dengan orang pandai agar menjadi pandai dan gunakanlah kepandaian untuk menjadikan orang lain pandai
"bergaullah dengan orang pandai agar menjadi pandai dan gunakanlah kepandaian untuk menjadikan orang lain pandai"

Sebagai manusia secara umum, pastilah kita terlahir dalam suatu lingkungan masyarakat yang di dalamnya terdiri dari beraneka ragam manusia dengan karakter dan kelebihan serta kekurangannya masing-masing. Dengan kondisi masyarakat seperti yang sudah disebutkan, sebenarnya banyak hal yang dapat kita pelajari dari orang lain yang berada di sekitar kita dan tentu saja dalam konteks yang positif. Pandai dalam ungkapan yang saya tuliskan di atas tidak hanya mengacu kepada kepandaian yang berhubungan dengan pendidikan, akan tetapi kepandaian dalam setiap aspek kehidupan yang ada. Misalnya saja pandai memasak, pandai bersosialisasi, pandai membawa diri, pandai berbicara dan banyak lagi kepandaian yang lainnya.

Mengapa saya menuliskannya dengan kata "bergaullah" bukan "belajarlah" dalam hal ini? Karena menurut pemikiran saya, dengan kita bergaul maka secara alami kita akan belajar dan langsung praktek serta tidak adanya jarak antara siapa yang belajar dengan siapa yang mengajari. Dalam bergaul juga lebih dapat mendukung terjadinya saling belajar dan mengajari dalam hal yang berbeda dalam satu waktu yang relatif sama. Berbeda dengan kata belajar, yang ada di dalam benak saya dengan kata belajar adalah ada dua pihak yang satu sebagai pihak pengajar yang pasti merasa lebih pandai dan yang lainnya adalah pihak yang belajar sehingga hanya terjadi satu arah proses pembelajaran.

Setiap orang pastilah mempunyai kelebihan di dalam dirinya sehingga dengan bergaul tanpa memilih-milih teman/bergaul dengan siapa saja pastilah kita akan mendapatkan suatu pembelajaran tentang kepandaian teman kita dengan catatan kita sendiri mau membuka diri untuk belajar. Tetapi ada kalanya kita tidak mempunyai cukup waktu untuk belajar dengan semua orang, sehingga untuk menunjang tujuan pembelajaran apa yang sedang kita butuhkan, maka intensitas pergaulan kita fokuskan kepada orang-orang yang mempunyai kepandaian di bidang tersebut.

Pengetahuan ataupun kepandaian yang kita dapatkan dari hasil bergaul dengan orang-orang yang pandai dalam bidangnya tersebut kita peroleh secara gratis, sehingga selain berguna untuk kemajuan pribadi kita maka sebaiknya kita juga mempergunakan kependaian yang ada dalam diri kita untuk menjadikan orang lain di sekitar kita menjadi pandai juga. Apapun kemampuan yang ada dalam diri kita tidaklah berguna dan tidak mempunyai arti apabila tidak kita pergunakan untuk membuat kehidupan dan lingkungan sekitar kita menjadi lebih baik. Menjadi lebih baik yang saya maksudkan adalah dengan adanya kita di suatu lingkungan masyarakat tertentu menjadi lebih mempunyai nilai dibandingkan dengan sebelum kita berada di lingkungan tersebut.

Sahabat, marilah kita pergunakan kepandaian dan kemampuan yang ada pada kita tersebut untuk membuat orang lain yang berhubungan dengan hidup kita sehari-hari menjadi pandai serta memperoleh suatu nilai tambah di dalam kehidupannya sehubungan dengan hadirnya kita di dalam kehidupannya. Dengan melakukan hal itu kita akan menjadi lebih berarti dan juga kita akan menjadi lebih pandai/mampu dari sebelumnya seperti kata pepatah "besi menajamkan besi dan manusia menajamkan manusia". Dan seperti pepatah itulah seharusnya yang terjadi pada saat kita bergaul dengan orang lain, bukan yang sebaliknya.

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati 





Jumat, 28 Oktober 2016

Melakukan dengan Benar Saja Tidaklah Cukup

Terkadang dalam hidup melakukan dengan benar saja tidaklah cukup, maka lakukanlah yang terbaik dalam kebenaran

"Terkadang dalam hidup melakukan dengan benar saja tidaklah cukup maka lakukanlah yang terbaik dalam kebenaran"

Sebelumnya saya akan menyamakan persepsi terlebih dahulu mengenai arti kata "benar" di dalam konteks tulisan saya ini. Arti kata benar yang saya maksud adalah segala sesuatu yang sesuai dengan aturan ataupun hukum yang berlaku di dalam suatu tempat dan juga sesuai dengan kenyataan yang ada. Untuk lebih memperjelas maksudnya, marilah kita lihat contohnya: batu apabila dilemparkan ke atas pasti akan jatuh ke bawah, hal ini adalah benar karena sesuai dengan hukum alam yang berlaku dan pada kenyataannya adalah seperti itu. sebuah contoh lagi, di negara Indonesia apabila seseorang mengendarai kendaraan di jalan raya harus berada pada ruas kiri jalan, dan pernyataan ini adalah benar karena sesuai dengan aturan atau hukum lalu lintas yang berlaku di negara Indonesia. Tetapi untuk di negara lain mungkin hal di atas tidaklah benar karena berlaku hukum yang berbeda, misalnya saja di Amerika Serikat orang berkendara adalah pada ruas jalan sebelah kanan.

Menjalani hidup ini memanglah harus secara benar, karena apabila kita tidak menjalaninya dengan benar sesuai dengan hukum dan aturan yang ada pastilah akan ada suatu konsekuensi yang akan kita terima atas ketidak benaran tersebut. Walaupun ada kalanya seseorang melakukan pelanggaran dan tidak diketahui oleh pihak yang berwenang, mungkin tidak ada sebuah konsekuensi berupa sanksi atau hukuman yang diterima tetapi pasti akan ada sesuatu yang terasa tidak nyaman/was-was/khawatir di dalam diri sendiri sebagai bentuk konsekuensi atas ketidak benaran yang dilakukan. Hal ini terjadi karena pada dasarnya manusia itu mempunyai kebenaran di dalam hatinya yang biasa disebut dengan hati nurani yang selalu mengontrol kebenaran kita dalam melakukan sesuatu.

Untuk melakukan segala hal dalam hidup kita secara benar bukanlah sesuatu yang mudah, bahkan untuk melakukan atau menjadi benar dalam hal-hal yang kecil saja terkadang banyak sekali rintangan dan godaan yang harus kita hadapi. Walaupun untuk melakukan dengan benar saja sudah tidak mudah, terkadang di dalam kehidupan ini ada juga hal-hal yang tidak cukup hanya dengan melakukannya secara benar saja, tetapi menuntut lebih daripada sekedar benar.

Kalau kita teliti dan cermati kehidupan yang kita jalani sehari-hari, mungkin banyak hal-hal yang harus kita lakukan merupakan sebuah kompetisi, mungkin juga ada hal-hal yang harus dilakukan dengan sebuah batasan waktu yang harus kita tepati, dan mungkin masih banyak lagi hal-hal lain dengan syarat dan kondisi yang berlaku. Melihat kondisi tersebut di atas maka terpikirlah bahwa melakukan dengan benar saja kadang tidaklah cukup untuk memenangkan kompetisi, untuk dapat sesuai dengan batasan waktu yang ada ataupun sesuai dengan syarat dan ketentuan yang ada dalam hidup ini. Sebagai contoh di dalam melakukan pekerjaan kita di tempat kerja, mungkin kita sudah melakukan dengan benar sesuai prosedur yang ada tetapi karyawan lainpun sudah sama-sam melakukan dengan benar pula. Setiap karyawan pastilah menginginkan penghasilannya bertambah ataupun karirnya meningkat, dan dalam hal ini adalah sebuah kompetisi yang harus dilakukan dan dimenangkan agar apa yang kita inginkan dapat tercapai. Untuk memenangkan sebuah kompetisi pastilah tidak mudah, kita dituntut untuk berbuat lebih daripada yang lain atau menjadi yang terbaik.

Setelah berusaha untuk melakukan secara benar dan melakukan yang terbaik yang mampu dilakukan, apakah kita pasti menjadi pemenang kompetisi yang kita ikuti? Belum tentu, tetapi pada saat kita sudah melakukan secara benar dan yang terbaik yang mampu kita lakukan maka apapun hasil akhir dari kompetisi yang kita ikuti, tidak akan kita rasakan sebuah penyesalan yang mengganggu hidup kita. Sahabat, marilah kita lakukan segala sesuatu dengan sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan yang ada dan tentunya juga dalam kebenaran.

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati 






Kamis, 27 Oktober 2016

Puisi: Arti dan Berartinya Sebuah Persahabatan

Manusia sebagai makhluk sosial, pastilah membutuhkan orang lain di dalam setiap saat kehidupan yang dijalaninya. Dalam kehidupan kita sehari-hari banyak sekali bentuk kebutuhan kita yang memerlukan kehadiran orang lain. Misalnya saja hanya untuk saling bercakap-cakap, berdiskusi, membuat group untuk suatu permainan dan masih banyak lagi yang lainnya. Mungkin banyak sekali orang lain yang berhubungan dengan kita di sepanjang hidup yang sudah kita lewati, dan pastilah orang tua, saudara serta suami /isteri apabila kita sudah menikah merupakan orang lain yang sangat istimewa dan berarti bagi kita semua.

Di luar yang sudah disebutkan di atas, yang secara hubungan masih ada pertalian darah secara langsung antara satu orang dengan orang yang lainnya ataupun secara hukum agama dan negara, pastilah kita juga mempunyai satu orang atau lebih yang begitu dekat dengan kita. Mungkin pada awalnya orang-orang tersebut bukanlah siapa-siapa bagi kita atau mungkin juga kita kenal dengan tidak sengaja. Biasanya setelah berkenalan dan bergaul dalam kurun waktu yang cukup lama maka kita akan dapat merasakan dan memilah orang-orang yang kita kenal tersebut. Apabila terdapat kecocokan antara satu orang dengan yang lainnya maka pastilah hubungan tersebut akan menjadi semakin dekat. Adakalanya kedekatan dengan orang lain ini bahkan dapat melebihi kedekatan dengan saudara yang masih ada pertalian darah. Hubungan yang begitu dekat ini secara umum disebut dengan persahabatan.

Sebuah persahabatan biasanya tercipta melalui sebuah proses waktu yang cukup panjang. Pada umumnya awal dari sebuah persahatan mulai terjalin pada saat seseorang menginjak masa ABG atau menuju kedewasaan. Mengapa persahabatan biasanya dimulai pada usia tersebut? Karena seseorang pada masa ini sedang dalam proses mencari jati diri sehingga dia akan mencoba bertanya dan bercerita apa yang dirasakan dan dialami pada teman sebayanya. Dengan adanya kesamaan usia yang otomatis juga mengalami hal yang kurang lebih sama maka terciptalah rasa senasib sepenanggungan. Kesamaan-kesamaan inilah yang akhirnya membentuk kedekatan hubungan antar teman yang satu dengan yang lainnya. Hal ini biasanya berlangsung dalam waktu yang cukup lama dan mempunyai kesan yang mendalam dalam kehidupan seseorang sehingga sulit untuk dilupakan. Banyak sekali hal-hal yang menyenangkan dan juga hal yang sulit yang kita lalui bersama dengan sahabat-sahabat kita. 

Secara umum seseorang yang kita sebut sebagai sahabat biasanya hanyalah beberapa orang dari sekian banyak teman yang ada. Hal yang membedakan antara teman dan sahabat biasanya adalah tingkat ketulusan dan kepercayaan yang saling diberikan antar teman. Dimana seorang sahabat tidak hanya dapat sebagai tempat berbagi suka saja tetapi terlebih pada saat kita mengalami suatu keadaan yang kurang menyenangkan. Di dalam hal inilah seorang sahabat mempunyai arti yang dalam, dimana tidak ada orang lain sebagai tempat berbagi dan berkeluh kesah ataupun sekedar mendengarkan apa yang sedang kita rasakan. Kan ada orang tua, mengapa tidak bercerita kepada mereka? Karena pada masa-masa remaja seseorang pasti merasa tidak begitu nyaman untuk bercerita kepada orang tuanya, mungkin karena takut dimarahi atau pun kemudian malah dilarang dan lain sebagainya. Dan hanya seorang sahabatlah yang dapat merelakan dirinya untuk mengerti tentang  kondisi kita.

Dan karena kerinduan akan kenangan-kenangan yang masih begitu melekat dalam hati bersama dengan sahabat-sahabat saya waktu dulu, maka saya menuliskan sebuah puisi untuk mengenang sahabat-sahabat yang telah banyak menggoreskan cerita dalam kehidupan saya, walaupun saat ini sudah sangat jarang bertemu karena kesibukan, waktu dan jarak.

Sebuah puisi untuk seluruh sahabatku:

Puisi terima kasih sahabat

Awan hitam gelap berarak
Beriring Melintas di langit senja
Burungpun terbang tanpa tujuan
Kemanakah aku harus berlari?

Rintik hujan mulai tercurah
Bersama gelegar guntur bersahutan
Menggetarkan raga yang kian renta
Dimanakah aku harus berlindung?

Dinginnya sang bayu kian menusuk
Dan darahpun seolah terasa beku
Padamkan gelora dan bara jiwa
Mampukah aku mengobarkan kembali?

Samar kulihat hadirmu di sisiku
Lembut lirih kudengar suaramu
Hangat terasa jamah tanganmu
Dan kau telah datang untukku

.....Terima kasih sahabat.....



Selasa, 18 Oktober 2016

Kekhawatiran Adalah Sebuah Kerugian

Kekhawatiran tentang hari esok tidak akan membuat hari esok menjadi lebih baik, bahkan sebaliknya

"Kekhawatiran tentang hari esok tidak akan membuat hari esok menjadi lebih baik, bahkan sebaliknya"

Setiap orang pasti pernah merasakan sebuah rasa yang tidak mengenakkan seperti rasa cemas, gelisah atau rasa takut terhadap sesuatu yang belum pasti tetapi harus tetap dijalani, dan inilah yang biasa dinamakan dengan rasa khawatir. 

Secara umum kekhawatiran dalam diri seseorang adalah normal apabila rasa khawatir tersebut tidaklah berlebihan dan tidak berkelanjutan. Kekhawatiran biasanya akan muncul pada saat kita akan menghadapi sesuatu yang besar menurut pemikiran kita dan kondisi dimana kita harus melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan atau alami. Contoh sederhana dan mungkin hampir semua orang pernah mengalami adalah pada saat kita pertama kali akan menghadapi ujian nasional (UN), di dalam pikiran kita lulus ujian nasional tersebut adalah hal yang sangat penting dan mengikuti ujian nasional tersebut belum pernah kita alami sebelumnya, sehingga pikiran dan perasaan kita akan terbeban dengan berbagai macam hal tentang ujian di hari esok.

Seperti di dalam contoh sederhana di atas, di dalam menjalani hidup sehari-hari sering kali kita dihadapkan dengan berbagai masalah dan beban hidup yang belum pernah kita alami sebelumnya sehingga membuat kita menjadi khawatir atau bahkan "stres". Rasa khawatir yang berkepanjangan dan membebani pikiran serta perasaan kita sebenarnya sangat merugikan dari sisi kesehatan tubuh dan mental karena hal tersebut akan dapat memicu timbulnya berbagai penyakit.

Rasa khawatir yang paling sering dirasakan oleh manusia adalah kekhawatiran tentang kehidupan dimasa yang akan datang. Biasanya seseorang yang sudah cukup dewasa atau pun yang sudah berkeluarga akan mulai terbebani sebuah tanggung jawab tentang bagaimana masa depan dirinya sendiri dan masa depan dari orang-orang yang dicintai. Karena masa depan adalah sesuatu yang tidak pasti dan belum kita alami maka hal inilah yang menimbulkan rasa khawatir dalam diri seseorang. 

Sebuah pertanyaan, "Apakah seseorang dapat menghindarkan diri dari rasa khawatir?" Menurut pendapat saya tidaklah mungkin menghindar dari rasa ini karena munculnya rasa khawatir tidak dikendalikan oleh kesadaran kita akan tetapi kita dapat dengan sadar mengelola dan meminimalkan agar efek yang ditibulkan tidak berkelanjutan. Rasa khawatir yang membebani perasaan dan pikiran kita serta menguras energi yang ada untuk selalu berandai-andai dan bertanya-tanya sendiri "Seandainya besok....bagaimana ya....?" Hal ini tidak akan menghasilkan apapun dan tidak akan mengubah apapun serta tidak akan membuat hari esok menjadi lebih baik. Bahkan dapat dikatakan bahwa rasa khawatir adalah sebuah kerugian dalam hidup kita, mengapa demikian? Karena dengan adanya rasa khawatir yang mengganggu tersebut, kita kehilangan sebuah kesempatan memanfaatkan waktu dan tenaga untuk menghasilkan sesuatu yang berguna dalam hidup. 

Hanya sebuah saran, pada saat kita merasakan adanya sebuah kekhawatiran yang mengusik perasaan dan pikiran, maka sebaiknya kita ambil waktu dan berdoa untuk berserah diri kepada Tuhan agar terbebas dari rasa tersebut dan mendapatkan keyakinan serta harapan untuk dapat melakukan dan melewati apa yang ada di masa yang akan datang. Sahabat, dalam tulisan ini saya sekedar berbagi pendapat saja dan mungkin masih banyak hal-hal yang belum saya ketahui sehingga apabila ada sahabat yang berkenan memberikan pendapat dan masukan untuk tulisan ini mohon dapat menuliskannya dalam kolom komentar, terima kasih.

Tonton juga beberapa video kumpulan kata kata bermakna, pepatah Jawa dan musikalisasi puisi dari channel youtube saya: Channel Ungkapan Hati